Diskusi: Immanuel Wallerstein dan Teori Sistem-Dunia

Tema Kajian: IMMANUEL WALLERSTEIN, WORLD-SYSTEM & GEOPOLITICS GLOBAL
Narasumber: HERRY HARYANTO AZUMI
Tempat: GEDUNG PBNU LT. 5
Waktu: JUMAT, 11 AGUSTUS 2006, 15.00 WIB

Pendekatan:

Teori Sistem-Dunia adalah perspektif makrososiologi yang berupaya menjelaskan dinamika “ekonomi dunia kapitalis” sebagai sistem yang bersifat total”. Pendekatan ini dipakai oleh Immanuel Wallerstein terutama melalui karya The Rise and Future Demise of the World Capitalist System: Concepts for Comparative Analysis (1974). Pada 1976 Wallerstein mempublikasikan bukunya berjudul The Modern World System I: Capitalist Agriculture and the Origins of the European World-Economy in the Sixteenth Century. Dengan karya tersebut Wallerstein memberikan kontribusi besar di dalam pemikiran sejarah dan sosiologi dan memancing berbagai respon dan inspirasi bagi pemikir lainnya.

Konsep-konsep utamanya dan juga blok bangunan intelektualnya berhasil menancapkan dampak sekaligus sambutan hangat dari negara-negara berkembang. Kajian Wallerstein mencakup sosiologi sejarah dan sejarah ekonomi. Karena tekanannya yang begtu besar terhadap pembangunan dan ketimpangan antar bangsa-bangsa, maka teori-teorinya dianut oleh para teoritikus dan praktisi pembangunan. Kombinasi ini membuat Proyek Sistem-Dunia bermakna intelektual sekaligus politik. Selain itu, pendekatan Wallerstein bersifat praxis, dalam arti antara teori dan praktek saling berkorelasi. Sementara itu tujuan aktifitas intelektual adalah menciptakan pengetahuan yang membongkar struktur-struktur tersembunyi yang memungkinkan seorang intelektual bertindak dan merubah dunia.

Metode Wallerstein seringkali diasosiasikan dengan sejarah dan sosiologi interpetatif, dan secara metodologis karya-karyanya berada di antara Marx dan Weber.

Latar belakang

Wallerstein lahir pada 1930 di New York. Dia masuk Universitas Columbia dan meraih gelar BS, MA and PhD di sana. Mentor utamanya adalah C. Wright Mills. Dari Mill tersebut, Wallerstein belajar soal sensitifitas historis, soal makrostruktur, dia menolak liberalisme dan, dalam beberapa hal, Marxisme.

Untuk beberapa saat, Wallerstein pernah tinggal di Paris. Di sana dia dipengaruhi oleh dua arus intelektual utama: kelompok sejarahwan Annales dan gagasan politik radikal. Paris saat itu merupakan pusat radikalisme politik dan intelektual di antara masyarakat Afrika, Asia dan Amerika Latin, dan menjadi penantang utama empirisisme dan liberalisme Anglo-Amerika. Dalam penelitiannya di Afrika, Wallerstein bersentuhan dengan dunia ketiga, dan dia menulis disertasinya mengenai proses pembentukan nasionalisme di Afrika Barat. Penelitiannya mengenai dunia ketiga berdampak besar terhadap karyanya. Dalam pengantar bukunya The Modern World System, Wallerstein menyatakan “In general, in a deep conflict, the eyes of the downtrodden are more acute about the reality of the present. For it is in their interest to perceive correctly in order to expose the hypocrisies of the rulers. They have less interest in ideological deflection.” (p. 4).

Tujuan

Karya Wallerstein berkembang ketika teori modernisasi dan pembangunan diserang habis-habisan. Sementara dia mengaku bertujuan menciptakan suatu penjelasan alternatif sebagai kritik terhadap teori-teori tersebut. Wallerstein sendiri bertujuan membangun “perbedaan konseptual yang jelas dengan teori-teori modernisasi dan lalu memberikan paradigma teoritik yang baru untuk menginvestigasi muncul dan berkembangnya kapitalisme, industrialisme dan negara-negara nasional” (Skocpol, 1977, p 1075). Kritisismenya terhadap modernisasi meliputi: (1) reifikasi negara bangsa sebagai unit inti analisis, (2) asumsi bahwa semua negara hanya bisa mengikuti jalan perkembangan evolusioner yg tunggal, (3) mengesampingkan perkembangan sejarah dunia dari struktur transnasional yang membatasi perkembangan lokal dan nasional, (4) menjelaskan tipe-tipe ideal ahistoris tentang “tradisi” versus “modernitas, yang dielaborasi dan diterapkan dalam kasus-kasus nasional.

Di dalam merespon teori modernisasi, Wallerstein menyusun agenda penelitian dengan 5 tema utama. (1) fungsi ekonomi-dunia kapitalis sebagai sebuah sistem, (2) bagaimana dan mengapa asal muasalnya, (3) bagaimana relasinya dengan struktur-struktur kapitalis pada abad-abad terdahulu, (4) kajian komparatif terhadap mode-mode produksi alternatif, dan (5) proses transisi menuju sosialisme (Goldfrank, 2000, Wallerstein, 1979).

Blok Bangunan

Ada 3 blok bangunan intelektual dari teori Sistem-Dunia yang dirujuk Wallerstein: Sekolah Annales, Marx dan Teori Ketergantungan (dependency theory). Blok bangunan ini diasosiasikan dengan pengalaman hidup Wallerstein dan keterlibatannya di dalam berbagai isu, teori dan situasi. Teori Sistem-Dunia berhutang pada Sekolah Annales yang diwakili oleh Fernand Braudel mengenai pendekatan kesejarahan (historical approach).
Wallerstein mengambil gagasan Braudel perihal la long duree (long term). Dia juga melakukan studi dengan fokus pada kawasan geoekologis sebagai unit analisis, sejarah pedesaan, dan keyakinan pada material empiris dari Braudel. Dampak Annales ini bagi Wallerstein terletak pada level metedologis.

Dari Marx, Wallerstein belajar bahwa (1) realitas fundamental konflik sosial berbasis pada kelompok manusia, (2) konsen dengan totalitas yang relevan, (3) hakikat transiter bentuk-bentuk sosial dan teori-teori tentangnya, (4) sentralitas proses akumulasi yang menghasilkan perjuangan kelas secara kompetitif, dan (5) dialektika gerak melalui konflik dan kontradiksi. Melalui kajian ini, ambisi Wallerstein adalah hendak merevisi Marxisme itu sendiri.

Teori Sistem-Dunia juga mengadaptasi teori ketergantungan (dependency theory). Dari teori ini Wallerstein menjelaskan pandangan neoMarxis mengenai proses pembangunan, yang populer di negara-negara berkembang dan diantara tokohnya adalah Fernando Henrique Cardoso. Teori dependensia memahami “peripheri”. dengan cara melihat relasi pusat-pinggiran yang tumbuh di kawasan periperal seperti Amerika Latin. Dari sanalah kritik terhadap kapitalisme global sekarang ini berkembang.

Pengaruh penting lainnya adalah Karl Polanyi dan Josep Schumpeter. Dari sini Sistem-Dunia tertarik pada lingkaran bisnis, dan juga gagasan mengenai tiga mode organisasi ekonomi: yakni mode reciprokal, mode redistribusi dan pasar. Tiga mode ini analog dengan konsep Wallerstein mengenai mini-system, world-system dan world-economy.

 

1 Komentar

  1. Terus terang, saya sangat tertarik dengan kajian-kajian Wallerstein walau saya sendiri belum membaca secara utuh karya-karyanya.
    Teori Wallerstein yang meletakkan kelompok dalam sistem dunia ke dalam tiga kelas (peripheri, semi peripheri dan core) saya kira merupakan sebuah pemikiran yang cerdas dan brilian. Hanya saja saya masih mempertanyakan apakah teori tersebut mampu menjelaskan bagaimana masa depan dunia ketiga, setidaknya untuk beberapa dasawarsa ke depan. Saya ingin tahu bagaimana Wallerstein atau pemikir-pemikir lain yang merujuk pada teorinya dalam memetakan kondisi dunia dengan fungsi to predict dari teori sistem tersebut.
    Apakah negara berkembang akan mampu untuk berubah ke arah yang lebih baik, sekurang-kurangnya “naik kelas” menjadi negara semi peripheri? Saya rasa kita dapat melihat harapan-harapan tersebut jika para pemimpin dunia ketiga sanggup bersikap berani seperti Hugo Chavez dan mencoba merombak sistem ekonomi domestik yang sekarang ini terlalu didominasi oleh hegemoni negara-negara core menjadi ekonomi yang mandiri.
    Kebanyakan dari pemimpin kita mungkin masih menjadikan tindakan semacam itu sebagai momok yang menakutkan. Kita masih berandai-andai bagaimana jika itu dilakukan, kita akan menjadi negara yang tertutup yang perekonomian internasionalnya diembargo oleh negara-negara utara. Bahkan lebih dari itu mungkin kita (negara-negara berkembang) juga akan diembargo secara total di bidang-bidang lain seperti di bidang pendidikan, bidang teknologi dan lain-lain.
    Dalam melakukan hal tersebut justru yang dibutuhkan adalah kesabaran yang luar biasa tidak saja dari para pemimpin tapi juga seluruh rakyat negara peripheri. Tapi yang perlu diingat, kita tidak sendiri. Masih ada rekan-rekan kita sesama “peripheri” seperti Venezuela, Kuba, Argentina dan lain-lain. Jika negara-negara utara melakukan embargo, kita masih punya harapan untuk membangun hubungan dengan negara-negara yang senasib dengan kita. Kita masih bisa bangun sistem kita sendiri dan tatanan internasional baru bersama mereka.
    Namun yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengubah budaya malas, mau senang doang, dan kebiasaan berangan-angan kita?


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s